Perkara-perkara Karena Sapi (Bagian I)

Sambas, Ahad, 3 Februari 2013
by SAMBAS INDEPENDEN

Sapi oh sapi, kenapa tentang mu saja manusia banyak yang melakukan perkara yang tidak-tidak ? Dulu, pernah kau sibukkan bani Israil untuk mencarimu (ingat tentang kisah al-Baqarah/sapi betina), dan sekarang di negeri kami ini, banyak manusia yang repot dan jadi khilaf bersikap dalam rangka mencarimu karena kelangkaanmu itu. 

Begitu lah kiranya ungkapan kalbu tentang ceritera sapi yang sedang bikin heboh kita dewasa ini. 

Mulai dari berita kelangkaan sapi di Indonesia, selanjutnya heboh bakso daging babi sebagai pengganti bakso daging sapi. Dan yang paling mutakhir adalah berita tentang Perkara Karena Sapi, maksudnya ada seorang elite dari suatu partai politik yang diperkarakan karena urusan sangkaan korupsi impor daging sapi. Semua berita tentang hal tersebut berturut-turut sedang "naik daun", menghiasi media cetak dan elektronik akhir-akhir ini. 

Pada artikel kali ini, admin sama sekali tak akan membahas perkara terakhir, yakni Perkara Karena Sapi yang mengarah pada sudut pandang politik praktis. Entah itu masalah tudingan tentang adanya konspirasi -persekongkolan untuk menjatuhkan- suatu partai politik tertentu. Atau kah memang sama sekali tidak ada konspirasi, dalam artian ini memang murni (masih tersangka) sebagai sebuah kekeliruan orang per orang.

Kita tidak akan tertarik bicara politik praktis tentang hal ini, karena suatu partai politik yang merasa sedang "dizhalimi", merasa sedang di-konspirasi, mestilah mereka telah berbenah diri secara internal maupun eksternal. 

Kita tidak pula bicara hukum di sini, karena  ianya sudah masuk ranah hukum yang ada di negeri ini.  Biarkanlah hukum -positif- (baca : hukum yang asalnya adalah khazanah kolonial Belanda) yang dianut oleh Negara Indonesia yang menyelesaikan perkaranya. Dan orang per orang yang dikira punya keterlibatan, seandainya dia merasa tidak bersalah, haruslah bisa membuktikan ke-tidakbersalahan-nya. Sebaliknya jika memang telah keliru dan bersalah, segera lah bertaubat kepada Yang Maha Kuasa, dan meminta maaf secara terbuka kepada rakyat, karena toh yang di-sunat adalah uang rakyat.

Pada artikel ini kita sedikit akan berbicara akar permasalahannya, yaitu masalah kelangkaan daging sapi. Yakni sebuah pandangan tentang pengelolaan peternakan sebagai sebuah solusi yang dapat ditawarkan untuk mengatasi masalah kelangkaan dan kekurangan daging sapi di negeri ini.

Pertanyaan sederhana, kenapa negeri kita harus menghadapi sebuah situasi dimana daging-daging sapi menjadi langka dan kurang ?  Tanah kita ini, bukankah ia teramat luas, dan rumput sebagai qut -makanan pokok- bagi sapi amat banyak di negeri ini. Seandainya kita malas sekalipun, kita tak perlu lagi sibuk untuk menanamnya untuk sekedar memberi sapi-sapi kita makan. 

Berkaca dari New Zealand

Coba bandingkan Indonesia dengan New Zealand (Selandia Baru), sama-sama negara kepulauan yang terletak di bagian bagian barat daya Lautan Teduh -Samudera Pasifik-. Menurut "mas" Wikipedia, luas daratan Indonesia adalah 1.922.570 km², sedangkan Selandia Baru adalah 268.021 km². Berarti luas daratan Indonesia lebih dari tujuh kali lipat dibanding luas daratan Selandia Baru.



Dalam link berikut, ada sedikit gambaran tentang pengelolaan sistem peternakan di sana http://koranpdhi.com/buletin-edisi4/edisi4-nz.htm

Dalam link di atas ada beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.  Kesan bahwa New Zealand adalah negara peternakan atau peternakan yang dikelola oleh negara. 
2. Hampir semua peternakan sapi perah di sana menggunakan model ranch, padang rumput. Sapi dilepas di paddock-paddock (semacam areal rumput tertentu). Sumber makanan utamanya adalah rumput yang tumbuh di paddock tersebut.
3. Pergiliran paddock yang akan digunakan juga sangat menentukan pengelolaan peternakan sapi perah. Berapa luas masing-masing paddock dan setiap berapa hari sekali ternak harus digilir ke paddock berikutnya merupakan salah satu kunci pengelolaan sapi perah agar daya dukung padang rumput bisa efisien.
4. Ada beberapa keuntungan yang didapatkan dengan menggunakan padang gembalaan sebagai sistem peternakan sapi perah. Pertama dari sisi alamiah sapi sebagai herbivora yang makanan utamanya rumput, sapi mendapatkan lingkungan dan pakan yang sesuai dengan nature-nya. Kedua dari sisi peternak, mereka tidak membutuhkan banyak tenaga kerja untuk merawat sapi dan lingkungannya. Ketiga, dan yang utama adalah bahwa peternak bisa menekan biaya untuk pakan.
5. Kunci dari berkembangnya peternakan sapi perah di New Zealand adalah dari sisi efisiensinya. Salah satunya adalah dengan kemampuan menekan biaya pakan. Padang gembalaan adalah caranya. Sehingga dengan efisiensi negara sekecil New Zealand, bisa menjadi pemain kunci dalam industri agribisnis khususnya dalam persusuan global (memainkan 31% dari total perdagangan susu dunia).
6. Peran dokter hewan sangat besar dalam perkembangan industri persusuan, meskipun hanya ada satu Fakultas Kedokteran Hewan di New Zealand yaitu di Massey University, dan lulusan yang dihasilkan hanya 50 orang pertahun.

Menurut sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Selandia_Baru#Perdagangan , sampai bulan Juni 2009, hasil susu mencapai 21 persen (US$ 9,1 miliar) dari total ekspor, dan perusahaan terbesar di negara ini, Fonterra, memegang kendali hampir sepertiga perdagangan susu internasional. Ekspor pertanian lainnya pada tahun 2009 adalah daging sebesar 13,2 persen, wol sebesar 6,3 persen, buah-buahan sebesar 3,5 persen dan perikanan sebesar 3,3 persen.. 

Menurut hemat admin, meskipun di sana yang dikembangkan banyak sapi perah penghasil susu sehingga memegang prosentase yang cukup signifikan (berarti) dalam ekspor mereka, lagi pula masih mengandalkan sistem gembala; namun lebih jauh dari pada itu semua, sebenarnya kita dapat berkaca dari mereka, tentang prinsip efisiensi dalam pengelolaan sistem peternakan di sana, sehingga dapat menjadi solusi dari permasalahan kelangkaan daging sapi yang terjadi akhir-akhir ini di negeri ini.

Kabupaten Sambas pun, yang memiliki luas wilayah 6.395,70  km², kalau benar-benar dioptimalkan pengelolaannya, bisa memberikan sumbangsih untuk mengatasi kelangkaan daging sapi. Admin teringat hal ini ketika dulu pernah bermalam di Pantai Selimpai Paloh, dimana banyak sapi-sapi yang notabene hidup liar di sana.

Sambas tak usah terlalu berpikir jauh-jauh tentang pertanian atau perkebunan ini-itu yang butuh pemikiran dan keahlian yang "njelimet dan mumet", meskipun itu ada baiknya. Namun untuk daerah-daerah yang terlantar, dalam artian tak ada lagi hutannya, sebaiknya dimanfaatkan untuk beternak sapi atau kambing saja. Caranya rakyat diminta kompak untuk bikin kelompok ternak, lalu diminta tanam rumput saja, selanjutnya mereka dibantu pengadaan bibit sapi unggul, seperti peranakan ongole (PO), limousin, atau minimalnya sapi Madura sajalah, pengadaan dengan skala yang lebih besar dari biasanya

Selanjutnya untuk mendukung itu semua mereka dibina. Untuk jangka pendek, hadirkanlah tenaga-tenaga berpengalaman dari daerah lain seperti Jawa untuk membina kelompok ternak itu. Sambil jangka panjang, mengirim pemuda cerdas, berbakat dan minat terhadap ilmu peternakan untuk kuliah ke luar Sambas, belajar di sana untuk menjadi ahli-ahli peternakan, dan juga dokter-dokter hewan, yang kelak mereka akan kembali di kampung halaman mereka membina masyarakat dalam bidang peternakan.

Secara potensi, Pemerintah Daerah pun sebenarnya bisa membangun BUMD peternakan untuk mengakomodir itu, dengan meminta dukungan penuh dari Menteri Negara BUMN.

Dan ternak yang dapat dikembangkan bukan hanya sapi saja, tetapi juga bisa kambing atau domba.

Kita jadi teringat bahwa Nabi-nabi dahulu, rata-rata profesi mereka adalah pernah jadi seorang penggembala yaitu tepatnya penggembala kambing.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ : مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلاَّ رَعَى الْغَنَمَ  . فَقَالَ أَصْحَابُهُ: وَأَنْتَ ؟ فَقَالَ : نَعَمْ , كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لأَهْلِ مَكَّةَ 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu : Dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda, "Tidak lah Allah mengutus seorang Nabi melainkan ia adalah menggembala kambing."
Para shahabat pun bertanya, "Dan engkau juga ?"
Jawab Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, "Ya, dulu aku pernah menggembala kambing milik orang Makkah dengan (upah) beberapa qirath." (HR. al-Bukhari). 

Ayo siapa yang mau menjadi penggembala-penggembala yang sukses dunia akhirat seperti para Nabi itu.   






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar