Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Salah Kaprah Sekerat Daging yang Bernama Kalbu

Sambas, Rabu, 30 Januari 2013
by SAMBAS INDEPENDEN

Istilah kalbu dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab قَلْبٌ, dari akar kata قَلَبَ-يَقْلِبُ-قَلْبًا, yang berarti membalik. Dengan demikian arti kalbu secara bahasa adalah sesuatu yang suka berbolak-balik. Bahasa Inggrisnya adalah heart.

Kalbu sering diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai hati namun yang sebenarnya adalah berarti jantung. Dan dalam sastra lama Indonesia sering disebut secara lengkap dengan istilah "jantung-hati".

 
Terjemahan kata kalbu yang seringkali dipakai oleh orang Indonesia yaitu hati ini, membuat rancu orang-orang, sehingga yang tergambar dibenak mereka adalah كَبِدٌ yang dalam bahasa Inggrisnya liver. Fungsi liver terpenting adalah adalah menyaring racun-racun yang ada pada darah.

Pembaca yang budiman. 


Besarnya kalbu/ jantung adalah sekira genggaman tangan manusia, sehingga disifati sebagai مُضْغَةٌ artinya sekerat daging yang seukuran dengan sesuatu yang bisa dikunyah oleh manusia.

Jantung adalah organ tubuh terunik, lantaran ia punya dua fungsi dengan dua dimensi yang berbeda, yaitu dimensi jasmani dan rohani.

Kedua fungsi kalbu/jantung/heart yang unik tersebut adalah :
1. Fungsi jasmani : sebagai pusat kehidupan seluruh jasad, yaitu dengan memompa darah untuk mengedarkan sari makanan yang dimakan, dan oksigen ke seluruh bagian tubuh manusia. Dengan detakan jantung yang menurut sebagian ahli bisa mencapai  100 ribu kali per hari, atau setara mampu memompa 2000 galon darah dalam sehari. 
Adanya detak jantung yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh, menunjukkan adanya kehidupan pada seorang manusia. Sebaliknya jika terhenti detak jantung yang berakibat berhenti peredaran darah, maka akan berhenti pula kehidupan.

2. Fungsi rohani : sebagai tempat berdiamnya ruh, nafs -jiwa-, akal, perasaan, niat, dan naluri. Ia lah yang menggerakkan seluruh jasad untuk bertindak. Seluruh jasad "tunduk-patuh" dengan apa yang diperintahkannya. Rasulullah bersabda, mafhumnya:

Ketahuilah, dan sungguh pada tiap-tiap jasad itu ada mudhghah (segenggam daging seukuran yang bisa dikunyah manusia). Jika mudhghah itu baik, maka akan baik pula seluruh jasad. Sebaliknya jika mudhghah itu rusak, maka akan rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah, mudhghah itu adalah qalbu/jantung. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Kata kalbu dengan makna asal yaitu yang suka berbolak-balik, juga berkaitan erat dengan dua fungsi ini. Pertama, detak jantung untuk memompa darah yang sampai ribuan kali setiap harinya itu menjadi alasan ia dikatakan suka berbolak-balik. Kedua, kondisi rohani manusia yang suka berubah-rubah, kadang duka, kadang suka; kadang senang, riang, dan gembira, kadang pula galau, gundah, dan gulana; membuat ia disebut sebagai kalbu, yang suka berbolak-balik.

Maka dengan demikian, berdasarkan kepada kedua fungsinya secara jasmani maupun rohani, kalbu/jantung menjadi organ terpenting di dalam tubuh manusia, yang harus kita jaga senatiasa kesehatannya, dan jangan sampai ia dihinggapi penyakit-penyakit, baik itu penyakit dimensi jasmani maupun dimensi rohani.

Ingat selalu pula, bahwa yang selamat di akhirat kelak, hanyalah mereka yang sanggup datang menemui Allah dengan membawa Qalbun Salim (kalbu yang selamat/sehat) sebagaimana QS. asy-Syu'ara : 89.

Semoga kalbu-kalbu kita, digolongkan ke dalam kalbu yang sehat, kalbu yang senantiasa Allah kokohkan tegak berdiri di atas agama-Nya yang murni. 





 
KLIK DI SINI UNTUK BACA SELENGKAPNYA- Salah Kaprah Sekerat Daging yang Bernama Kalbu

Ternyata Susah Mencari Orang yang Berhak dijadikan Public Figure

Sambas, Ahad, 27 Januari 2013
by SAMBAS INDEPENDEN

Pembaca yang budiman.

Pemimpin adalah satu atau dua orang yang menjadi "nakhoda", bisa tua, bisa muda. Sedangkan tokoh-tokoh masyarakat adalah kumpulan "orang terpandang" yang jumlahnya jamak, mereka bukan "nakhoda" tetapi mereka terdepan di dalam masyarakat, yang turut menjadi penentu arah, kemana "kapal mereka hendak dibawa berlayar oleh nakhoda". Mereka yang terakhir ini lebih berpeluang memberikan social control kepada "nakhoda", lebih punya akses untuk menashihati "nakhoda" dibanding rakyat jelata.

Kedua komponen masyarakat di atas itu lah yang lebih umum disebut public figure.

Lalu siapa yang berhak untuk di-public figure-kan dalam suatu masyarakat? Dalam artian, siapa yang berhak untuk dijadikan "nakhoda" dan tokoh-tokoh masyarakat yang mengontrolnya? Ternyata dalam hal ini, ada banyak tawaran yang berkembang di dalam masyarakat tentang siapa yang lebih berhak.

Pada artikel ini, kita "tendang" saja pendapat-pendapat "nyeleneh" yang berkembang di masyarakat tentang siapa yang lebih berhak, misal yang paling jago, yang paling preman dan pendapat-pendapat aneh lainnya. Kita buang jauh-jauh pendapat-pendapat itu. Kita hanya mengambil pendapat-pendapat yang masih masuk akal.

Ada yang mengatakan, yang lebih berhak menjadi public figure adalah orang pintar, dengan alasan bahwa ketika mereka memimpin dan menjadi tokoh-tokoh nantinya bisa me-manage alias mengurus negeri sebaik-baiknya. Masuk akal memang. Tapi celakanya, kebanyakan orang yang pintar, ternyata pintar segalanya, pintar memimpin, juga pintar menipu. Orang ini tidak layak memimpin.

Ada yang mengatakan, yang lebih berhak menjadi public figure adalah orang yang bijak, dalam artian suka sekali membuat kebijakan, hal ini dibuat kebijakan, hal itu dibuat kebijakan. Semuanya kebijakan. Akhirnya kebanyakan kebijakan, jadi tidak bijak lagi namanya. Orang kedua ini juga tidak layak.

Ada yang mengatakan, yang lebih berhak menjadi public figure adalah orang jujur, dengan alasan bahwa ketika mereka memimpin dan menjadi tokoh, nantinya bisa jujur, tidak tergiur dengan uang. Anggapan kelompok yang mengajukan ini juga ada benarnya, dan masuk akal. Tapi orang yang cuma punya sifat jujur, kebanyakannya dari mereka itu juga punya sifat yang polos, naif, lemah, mudah ditipu, dan mudah ditikam dari belakang. Dan dalam kondisi tertipu sekalipun, mereka masih sabar, dan tulus. Akhirnya mereka yang menipu semakin menipu, memanfaatkan kondisi yang ada. Kesempatan emas buat mereka, menjadikan si jujur ini jadi kendaraan, jadi tameng, jadi tumbal semata. Orang ketiga ini sebaiknya cepat sadar kalau dia sedang jadi kendaraan politik. Pikirkan diri Anda sendiri dan rakyat yang sedang kena tipu. Lebih baik cepat-cepat mundur, jikalau sudah terlanjur. 

Ada yang mengatakan, yang lebih berhak adalah orang yang sudah kaya, dengan alasan bahwa ketika mereka memimpin atau menjadi tokoh-tokoh masyarakat nantinya tidak tergiur lagi dengan yang namanya uang. Mereka kan sudah banyak uang, tak perlu lagi "curang", sebab ujung-ujungnya ketika menjadi pemimpin yang diurus itu adalah uang. Anggapan kelompok yang menawarkan ini relatif ada benarnya, dan sedikit masuk akal. Tapi apakah ada yang menjamin, bahwa harta-harta yang mereka miliki itu bisa jadi penghalang bagi mereka untuk tidak berbuat "curang"? Kita kira, tidak ada yang bisa menjamin. Sebab, sudah jadi tabiat dari anak-cucu Adam, kalau dia punya emas sebanyak dua lembah, pasti dia mencari yang ketiganya (HR. al-Bukhari dan Muslim). Yaitu dengan kata lain sifat manusia yang rakus, tamak, dan loba.
Kalangan orang yang keempat ini dirinci:
Pertama, jikalau Anda sebelum terjun sudah dinilai orang lain sebagai orang baik-baik, punya track record yang baik, tidak berbuat hal yang tidak-tidak, sebaiknya Anda lebih baik jangan mau untuk diperangkap, dan jangan tergiur tawaran-tawaran muluk dari orang-orang yang notabene ingin menjadikan Anda tunggangan, ingin menumpang suara dengan kekayaan Anda. Sebab nanti bisa-bisa dia mengerok habis harta Anda.
Kedua, jikalau Anda sebelum terjun sudah tidak bagus track record-nya, bagaimana nanti kalau Anda memimpin, bisa semakin rakus dan tidak terkendali nantinya. Anda tidak layak untuk memimpin. 

Yang terakhir, ada pula yang mengatakan, yang lebih berhak menjadi pemimpin adalah orang yang bertaqwa, berakhlaqul karimah, dan tinggi ilmu agamanya. Kita pasti sepakat, sebenarnya mereka inilah yang sangat-sangat layak untuk dijadikan pemimpin, apalagi dia punya skill individu dan seni dalam memimpin yang cukup, tapi kebanyakan dari mereka ini tidak mau.
Mereka memberikan dua alasan, yang pertama, berdasarkan keikhlasan, keilmuan, dan kehati-hatian, mereka sangat jarang yang mau disuruh mendaftar jadi pemimpin,  sebagai akibat sistem demokrasi yang mempersyaratkan bahwa kalau ingin memimpin harus mendaftar dulu, yang berarti sama dengan meminta jabatan. Dia paham betul tentang larangan dari hukum syara' tentang meminta jabatan.
Yang kedua, dia tahu apa konsekuensi menjadi pemimpin pada saat-saat ini. Terlalu banyak "PR", dan tugas yang harus dipecahkan, serta terlalu banyak musuh yang dihadapinya di "balantika" politik nantinya. Dia takut kalau-kalau dia tidak mampu mengemban amanah dan akhirnya jadi penyesalan di akhirat kelak.

Jadi tidak ada dari kategori orang-orang di atas yang lebih berhak memimpin negeri karena semuanya dikategorikan tidak layak atau mereka tidak mau.

Akhirnya yang jadi pemimpin dan tokoh-tokoh masyarakat adalah orang-orang yang paling berambisi untuk berkuasa, dan mereka ini yang paling bagus trik dan starateginya dalam meraih suara rakyat, meskipun ditempuh dengan cara-cara yang tidak dibenarkan oleh agama.

Apa jadinya negeri ini ... G A L A U kata orang sekarang.
KLIK DI SINI UNTUK BACA SELENGKAPNYA- Ternyata Susah Mencari Orang yang Berhak dijadikan Public Figure

Menanti Tenggelamnya Kapal Van ...

Sambas, Sabtu, 26 Januari 2013

by SAMBAS INDEPENDEN


Maaf, jangan tergoda dulu dengan judul kita, Menanti Tenggelamnya Kapal Van ....


Artikel ini bukan lah kategori prosa. Hanya coba meminjam istilah dari novel terkenal Buya Hamka, yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, yaitu sebual novel yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1938 yang berkisah tentang kasih tak sampai antara Zainuddin, laki-laki berayah Minang beribu Bugis, dan Hayati, perempuan yang murni keturunan Minang.


Artikel ini adalah sebuah tulisan yang nantinya akan memuat sebuah hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, untuk kita jadikan motivasi dalam perjuangan kita, terutama perjuangan dalam menegakkan al-Amru bil-Ma'ruf wan-Nahyu 'anil Munkar (amar ma'ruf nahi munkar) sesegera mungkin, dan jangan sampai ditunda-tunda lagi.



Pembaca yang budiman.

Di dalam sebuah hadits, dari Shahabat Nu’man bin Basyir Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam beliau bersabda :


Perumpamaan orang yang menegakkan hukum Allah dan orang yang diam terhadapnya yakni tidak menegakkannya, adalah seperti sekelompok orang yang berlayar dengan sebuah kapal, yang sebagian dari mereka ada yang mendapat tempat di atas dan sebagian lagi di bagian bawah.


Jika mereka (yang di bawah) mencari air untuk minum mereka, mereka harus melewati orang-orang yang berada di bagian atas. Mereka pun berkata, ‘Seandainya boleh, kami lubangi saja kapal ini untuk mendapatkan bagian kami, sehingga kami tidak mengganggu orang yang berada di atas kami.’


Jika orang yang berada di atas membiarkan saja apa yang diinginkan orang-orang yang di bawah itu, mereka akan binasa semuanya.

Namun, jika mereka mencegah dengan tangan mereka, maka mereka akan selamat semuanya.


(HR. al-Bukhari, at-Tirmidzi, dan Ahmad).

Begitu bimbingan Rasulullah kepada kita ummatnya. Bahwa jangan sampai semua dari kita tinggal diam, membiarkan orang-orang berbuat munkar dan aniaya semaunya. Mesti lah ada sekelompok kaum dari kita yang bisa berbicara, menyeru kepada kebajikan, mencegah dari kemungkaran. Jikalau kita ingin selamat. Jikalau "kapal" yang kita tumpangi sekarang ini tidak dibocorkan atau dipecahkan oleh segelintir oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Jangan tunggu kapal ini tenggelam, baru kita saling menyalahkan.

Sadarlah kita semua. Bangkitlah kita semua. Coba lah untuk sedikit peka melihat kemunkaran-kemunkaran yang ada di sekeliling kita, di rumah, di tempat kerja, di jalanan, dan di setiap tempat. Kemudian rubahlah kemunkaran-kemunkaran itu dengan tangan/kuasa kita, kalau tidak mampu maka dengan lisan/pengajaran kita, atau kalau tidak mampu pula paling tidaknya dengan pengingkaran dan pencelaan dengan qalbu kita.

Dan kita berdo'a, semoga Allah tetap jaga kapal ummat ini terus berlayar, dan selamat sampai ke tujuannya yaitu surga Jannatunna'im. Semoga setiap penumpang dari kapal umat ini dapat saling peduli, dan tidak saling membiarkan ketika ada yang ingin melubanginya. Semoga Allah senantiasa lindungi kita dari segala bencana dan marabahaya yang sanggup menghancurkan kita disebabkan pengabaian kita terhadap amar ma'ruf nahi mungkar. Semoga Allah jadikan diri kita gemar beramar makruf -menyuruh orang berbuat kebajikan-. Dan semoga Allah jadikan pula diri kita peka dan sensitif terhadap kemungkaran, sehingga kita pun mengingkari dan merubahnya dengan tangan, atau lisan, dan minimalnya dengan qalbu kita. Amin.
KLIK DI SINI UNTUK BACA SELENGKAPNYA- Menanti Tenggelamnya Kapal Van ...

Menilik Caturlogi Kebatilan

Sambas, Jum'at, 25 Januari 2013

by. SAMBAS INDEPENDEN


Caturlogi kita artikan sebagai empat hal yang saling berhubungan erat, bertautan, dan saling bergantung satu sama lainnya. 

Dengan demikian frasa Caturlogi Kebatilan artinya empat kebatilan/kemungkaran yang saling berhubungan erat, bertautan, dan saling bergantung serta saling topang menopang satu sama lainnya untuk menghancurkan yang kebenaran, dan ini lebih dikenal dengan istilah konspirasi terhadap al-haqq/kebenaran.

Caturlogi Kebatilan adalah sebagai berikut :
1. Kekuasaan.
2. Kedudukan.
3. Harta.
4. Pengikut.

Caturlogi Kebatilan ini bukan hanya menunjuk kepada satu kaum di suatu tempat di suatu masa, akan tetapi caturlogi ini adalah bersifat umum, dimana pun dan kapan pun, baik dimasa lampau, sekarang, atau yang akan datang, semuanya ada dan benar-benar akan terjadi.

Penjelasan untuk masing-masing dari caturlogi tersebut adalah :

Pertama : Kekuasaan 
Yaitu Peraihan kekuasaan kebatilan di tingkat puncak. 
Pelakunya yaitu pemimpin puncak yang zhalim yang berkuasa dengan leluasa di suatu negeri. Bisa jadi mereka ini tampil di muka layar, atau mungkin mereka itu ada di balik layar. Ciri-ciri kepemimpinannya adalah kebatilan dan kemungkaran, dalam artian bagaimana  mereka meraih, menyelenggarakan, dan mempertahankan kepemimpinannya selalu di atas kebatilan, kemungkaran, kezhaliman, dan ketidakadilan.
Tokoh utama yang menjadi panutan adalah FIR'AUN si pengaku "tuhan".

Kedua : Kedudukan
Yaitu Mencari kedudukan dengan cara membantu kekuasaan kebatilan puncak
Pelakunya yaitu para staf, pembantu, asisten, dan yang semakna dari suatu pemimpin puncak yang zhalim. Ciri-ciri mereka adalah selalu menjadi pembantu, pemberi saran, dan sekaligus pelaksana/eksekutor suatu kezhaliman pimpinan puncak yang zhalim, dan ciri yang paling nampak adalah selalu ingin ikut ambil bagian dan menikmati kepenguasaan si pemimpin zhalim, yang acapkali dengan meraihnya dengan cara "menjilat" dan sebagainya.
Tokoh utama yang menjadi panutan adalah HAMAN si perdana menteri "Sultan" Fir'aun.

Ketiga : Harta
Yaitu peraihan harta dan modal sebanyak-banyaknya
Pelakunya adalah para pelaku usaha di luar penguasa. Mereka yang terkenal dengan "slogan dan semboyan" mereka "halal haram hantam". Ini bisa jadi berhubungan langsung dengan penguasa zhalim dengan menjadi kolega (baca: "menjilat") mereka dalam peraihan, penyelenggaraan, dan kelanggengan kekuasaan, atau tidak berhubungan langsung dengan penguasa. Yang penting bisa meraih harta sebanyak-banyaknya. Ciri-ciri mereka adalah mengumpulkan harta tetapi pelit ketika ingin mengeluarkannya untuk zakat, sedekah, dan membantu kepentingan umum.
Tokoh utama yang menjadi "uswah" atau "teladan" adalah QARUN si kaya yang celaka.

Keempat : Pengikut
Yaitu peraihan pengikut sebanyak-banyaknya.
Pelakunya adalah dari kalangan yang mengatasnamakan ajaran agama, pura-pura menjadi alim-ulama, padahal qalbu mereka sangat busuk. Yang mereka inginkan hanyalah kehormatan di sisi ummat, dengan mencari pengikut sebanyak-banyaknya. Bisa jadi mereka dekat dengan pemimpin zhalim ikut "menjilat" kepada mereka, bisa jadi pula tidak. Bisa jadi mereka "zuhd" tidak mencari harta dengan ajaran mereka ini, namun bisa jadi pula mereka sekaligus mencari harta. Ciri-ciri menonjol mereka adalah mengajarkan kesesatan, sombong dengan ilmu yang ada di sisi mereka, dan sombong dengan ketokohan mereka, serta suka memutarbalikkan dalil-dalil agama untuk kepentingan mereka.
Tokoh utama yang menjadi teladan mereka adalah "SAMIRI" si pembuat patung lembu dari emas yang kemudian disembah oleh bani Isra'il.

Bisa jadi keempat Caturlogi ini menjelma pada suatu jasad manusia, artinya seorang manusia mempunyai keempat sifat kebatilan tersebut. Bisa jadi tiga, bisa jadi dua, dan minimalnyadalam satu tubuh, satu sifat saja dari keempat sifat yang terkandung dalam caturlogi ini.

Caturlogi ini berporos pada satu hal yaitu M A B U K  D U N I A

Yakni, pertama, mereka ingin menikmati sepuas-puasnya nikmat dunia ini. Dan kedua, pada umumnya orang-orang yang ikut ajaran Caturlogi Kebatilan ini sulit untuk sadar dan kembali ke jalan yang benar, oleh karena mereka senantiasa sibuk menikmati dunia, mereka sedang mabuk, dan lupa siapa diri mereka sebenarnya.

Keempat tokoh utama yang menjadi pendahulu dan menonjol perannya dalam mengajarkan caturlogi ini adalah tokoh-tokoh kebatilan yang kontra terhadap rasulullah (utusan Allah) saat itu yaitu Nabi Musa alaihissalam. Khabar tentang mereka ini sudah Allah abadikan dalam firman-firman-Nya, dan semuanya berakhir dengan petaka, celaka, dan bencana di dunia. Belum lagi siksa yang menunggu mereka di akhirat kelak.


Maka awas di sekeliling kita mungkin saja ada orang-orang yang semisal keempat tokoh ini, ada "Fir'aun kecil", ada "Haman kecil", ada "Qarun kecil", dan ada "Samiri kecil". Jangan terlalu akrab berteman dengan mereka, atau jangan berteman sama sekali. Sebab nanti bisa-bisa kita terlarut dan ikut-ikutan mereka. 

Atau mungkin diri-diri kita ini telah menjadi salah satu penganut caturlogi ini, ingin menjadi penerus cita-cita pendahulu kebatilan ini. Na'dzubillahi min dzalik

Taubatun Nashuha lah kita semua kepada Allah.

KLIK DI SINI UNTUK BACA SELENGKAPNYA- Menilik Caturlogi Kebatilan

Kegembiraan menyambut Jum'at di Kota Sambas

Sambas, Jum'at, 4 Januari 2013
by SAMBAS INDEPENDEN

Konon, menurut ceritera orang-orang tua, dahulu hari Jum'at begitu nampak perbedaannya dibanding hari-hari lainnya di kota Sambas, sebuah kota yang terletak di pertigaan sungai Sambas Kecil, sungai Subah, dan sungai Teberau.


Ketika itu baru ada satu masjid yang diadakan padanya sholat Jum'at di kota ini, yaitu sebuah Masjid Agung yang dibangun oleh yang mulia Sulthan Muhammad Tsafiuddin II di kompleks pemerintahan sekaligus kediaman beliau sebagai raja yang masyhur. Dan oleh karenanya, masjid ini dinamakan Masjid Jami', artinya masjid yang diadakan di dalamnya sholat Jum'at. Sedangkan sholat lima waktu lainnya mereka lakukan di surau-surau di kampung-kampung mereka.

Pada tiap-tiap hari Jum'at setiap pekannya, penduduk Sambas yang mayoritas muslim itu, membatasi kegiatan mereka, terutama dalam aktivitas perdagangan mereka.  Mereka lebih mengutamakan untuk bersiap-siap menuju Masjid Jami', sebab nantinya akan diadakan "perkumpulan seluruh laki-laki yang sudah baligh se-kota" bersama dengan pemimpin-pemimpin mereka, mendengarkan "rapat umum" dari seorang mufti kerajaan, yang dilanjutkan dengan "upacara sakral" secara berjama'ah antara raja dan rakyatnya menghadap Allah Raja dari segala raja, Sang Empunya alam semesta.

Persiapan mereka untuk itu, kira-kira hampir siang semua toko, baik toko Melayu atau Tionghoa telah pun tutup. Mungkin saja dulu ada hukuman dari kerajaan buat siapa saja yang mengadakan perdagangan di waktu shalat Jum'at ditegakkan. Laki-laki muslim tua-muda, besar-kecil kemudian mandi Jum'at yang hukumnya wajib itu. Lalu kemudian mengenakan setelan pakaian terbaik mereka. Kopiah hitam di kepala bak mahkota, yang dipakai agak sedikit miring ke kiri atau ke kanan sesuai selera. Ada yang memakai atasan berupa baju teluk belanga', ada pula yang memakai jas, dengan bawahan sarung plekat beraneka corak dan warna. Tak lupa mereka usapkan di pakaian mereka itu minyak kasturi, untuk menambah semerbak suasana.

Secara berkelompok-kelompok, mereka mengayuh sampan menuju arah pertigaan Muara Ulakan, tempat berdirinya Masjid Agung Jami', tempat yang sudah "disepakati" bersama oleh segenap manusia di kota kecil ini untuk berkumpul dalam rangka mendirikan shalat Jum'at, sebuah sarana buat mereka menghadap Ilahi Rabbi.

Pada zaman itu, bukanlah tidak ada kaum muslim laki-laki baligh yang terkena wajib 'ain shalat Jum'at, lalu mereka tidak melakukannya. Mesti ada. Tetapi mereka jauh-jauh mengurung diri di dalam rumah mereka, takut kalau-kalau mereka dilihat orang. Masih ada rasa malu pada diri mereka.

Ya. Begitulah keadaan hari Jum'at pada zaman yang lampau di negeri ini. Suasana ibadah amat kental terasa. Ini bukan tanpa alasan, karena hari Jum'at adalah hari yang istimewa buat kaum muslimin di seluruh penjuru dunia, tak ketinggalan di negeri Sambas ini dulu.

Ia bukanlah seperti 6 hari lainnya yaitu Senin, Selasa, Rabu Kamis, Sabtu dan Ahad, karena Allah jadikan hari Jum'at ini sebagai hari besar buat kaum muslimin, hari raya atau id yang senantiasa berulang setiap minggunya, hari raya yang ada unsur ibadah taqarrub ilallah yang sifatnya wajib yaitu shalat Jum'at dan ibadah-ibadah sunnat lainnya seperti membaca surat al-Kahfi dan sebagainya.

Di dalam sebuah hadits sebagaimana yang diriwayatkan oleh shahabat Anas bin Malik radhiayallahu 'anhu diceritakan bahwa Jibril datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sementara di tangan Jibril ada semacam cermin yang berwarna putih dan di tengah-tengahnya ada titik yang berwarna hitam : Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun bertanya kepada Jibril :

Apa ini wahai Jibril? Ini adalah Hari Jum'at, Rabb-mu telah perlihatkan kepadamu, supaya ia menjadi hari Id untukmu dan kaummu yang hidup setelahmu.

Dan juga hari Jum'at bukanlah seperti 6 hari lainnya karena Allah jadikan di hari Jum'at ini sebaik-baik terbit dan terbenamnya matahari.

Dari Abu Hurairah dia berkata : telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : Sebaik-baik hari yang terbit padanya matahari ialah hari Jum'at, padanya diciptaka Adam, padanya dia dimasukkan ke surga, dan padanya pula ia dikeluarkan dari surga.

Berbagai macam fadhilah atau keutamaan, Allah sediakan buat ummat Muhammad pada hari ini, dan di antaranya yang terbesar adalah fadhilah diampunkannya mereka yang menghadiri Shalat Jum'at dari dosa-dosa kecil yang mereka lakukan sebagaimana hadits riwayat Muslim :

Dari Abu Hurairah dia berkata : telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : Barangsiapa yang berwudhu dengan membaguskan wudhu'nya, kemudian dia datangi Shalat Jum'at, dia simak baik-baik khatib, dan dia dia diam ketika khatib berkhutbah, maka dia pasti diampuni sampai ke Jum'at berikutnya ditambah 3 hari lagi.

Maka dari itu di antara mereka yang paham betul akan hal ini, akan bergembira ketika memasuki hari Jum'at setiap pekannya. Awal-awal mereka sudah datang ke mesjid, dan kebetulan sang mufti ada mengadakan taklim umum yang dikenal dengan istilah tashwir, yang pada waktu muftinya adalah Muhammad Basiuni Imran, beliau membaca kitab al-Umm milik al-Imam asy-Syafi'i Rahimahullah Ta'ala.

Meskipun jauh dari negeri Makkah dan al-Madinah sebagai dua pusat dan dua sumber Agama Islam di dunia ini, orang-orang Sambas pada waktu itu tetap menyambut hari Jum'at ini dengan kegembiraan. Kegembiraan lantaran setiap dari mereka sedang mengharap keutamaan yang telah Allah sediakan buat mereka di hari itu. Dan pula karena hari Jum'at ini adalah hari raya buat mereka, selain kedua hari raya tahunan yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.


Mari kita kembalikan besarnya dan sakralnya hari Jum'at ini di kota Sambas pada setiap pekannya, seperti zaman yang sudah-sudah. Suatu zaman yang telah membuktikan bahwa hanya ada satu cara untuk meraih berkah Allah dari langit dan bumi, yakni supaya negeri ini makmur, aman, dan sentausa, yaitu dengan cara penduduknya beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
KLIK DI SINI UNTUK BACA SELENGKAPNYA- Kegembiraan menyambut Jum'at di Kota Sambas