Sambas, Sabtu, 5 Januari 2013
by SAMBAS INDEPENDEN
Tak
dapat dipungkiri, ibukota adalah wujud perwajahan bagi suatu tempat.
Jakarta adalah wajah Indonesia. Pontianak adalah wajah Kalbar. Kota
Sambas adalah wajah Kabupaten Sambas.
Orang
akan pertama kali menilai bagus tidaknya tempat dilihat dari wajahnya.
Apa sebab? karena wajah lah yang pertama kali ditampilkan dan dilihat
orang. Bagian lainnya hanya penyokong semata.
Jika
kita lihat kota Sambas sebagai wajah Kabupaten Sambas, kiranya apa yang
dapat ditampilkan untuk dapat membuat orang terpikat ketika melihatnya.
Apa saja yang bisa di make-up dan dipoles sehingga setiap viewer
langsung terlena, betah memandangnya, seperti memandang wajah kekasih
idaman hati ? nah itu lah permasalahan kita.
Bagi admin masalah make-up wajah kota Sambas, sangat berhubungan erat dengan titik nol kota.
Pandangan
orang-orang mengenai fungsi titik nol suatu kota, mungkin terbatas
sebagai penanda titik pusat kota, dan acuan jarak satu kota ke kota
lainnya. Namun tidak hanya itu menurut kita. Bagi kita titik nol suatu
kota haruslah pula menjadi titik acuan bagi tata ruang suatu kota dalam
rangka arah pembangunannya.
Jadi titik nol harus menjadi titik pusat dari lingkaran pengembangan kota. Semakin besar jari-jari atau radius lingkaran kota, semakin besar pula kota itu.
Titik nol kota Sambas
Ketika
baru masuk kota Sambas, penanda KM berupa tugu kecil berwarna putih
yang bearada di kiri/kanan jalan menunjukkan pada angka 7 KM. Kalau bagi
yang pertama kali masuk akan mengira itulah radius ramai kota.
Berjalan lebih jauh, kita tak akan tahu ke arah mana titik nol kota,
karena tidak ada penuntunnya. Berbeda bagi sebagian kota ada yang
menjadikan titik nol ini sebagai salah satu situs wisata buat mereka.
Sejauh
pengetahuan admin (tolong dikomen kalau salah), titik nol sambas adalah
di pertigaan jalan SM Tsafiuddin, ke jalan Pembangunan, tepatnya di
dekat Surau Nurul Iman Desa Dalam Kaum. Kalau kita tarik garis radius ke
segala penjuru angin ternyata pengembangan kota terasa timpang, dan
tidak seimbang, ada garis yang ramai, dan kebanyakannnya garis-garis
sepi, dan kosong dari pengembangan.
Garis ramai hanya ke arah Barat-Selatan dan ke arah Barat-Utara, menyusuri Jalan Sambas-Pontianak dan Jalan Sambas-Sekura. Garis ke Utara, masih sedikit timpang, sebab hanya jalan Sambas-Sejangkung saja bertumpu pengembangan sebagai jalur pendidikan. Sedangkan garis Timur menyusuri Jalan Sambas-Ledo, garis ramai hanya pendek, lepas kompleks perkantoran sudah sepi. Padahal menurut hemat admin, justru kedepannya yang seharusnya dikembangkan adalah ke arah Timur ini. Kiranya pebisnis-pebisnis properti lebih baik melirik arah ke Timur ini. Bisnis properti ini penting untuk Sambas, untuk menambah jumlah penduduk. Nantinya besarnya jumlah penduduk akan berbandinglurus dengan besarnya potensi perputaran ekonomi dan uang di Sambas ini.
Pertanyaannya apakah berpotensi untuk berbisnis properti ke arah Timur ini, menyusuri jalan Sambas-Subah-Ledo. Jawabannya iya, daerah di sini umumnya menaik dari permukaan laut di banding pusat kota sehingga bebas dari banjir. Akses ke kota? Oke, jalan mulus. Harga tanah? Oke, masih banyak yang murah. Kalau Listrik? Oke, tidak masalah. Kalau penyediaan sarana Air Bersih? Nah ini lah masalahnya, masih belum ada PDAM di daerah ini, padahal ada sungai Teberau yang setia mengiringi Jalur Timur ini.
Pembangunan PDAM di Timur ini kuncinya.
Selain
itu yang mendesak untuk pengembangan pula adalah pembangunan jalan
lingkar kota, untuk segera membuka akses-akses ke segala penjuru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar